Keanekaragaman Hayati Fauna

1. Inventarisasi Jenis Mamalia

Berdasarkan hasil inventarisasi mamalia di area MTR, tercatat sebanyak 9 jenis mamalia dengan total 101 individu yang tersebar pada tiga jalur pengamatan. Jenis mamalia dengan jumlah individu tertinggi adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebanyak 38 individu, diikuti oleh bajing kelapa (Callosciurus notatus) sebanyak 15 individu, lutung budeng (Trachypithecus auratus) sebanyak 15 individu, dan codot krawar (Cynopterus brachyotis) sebanyak 13 individu.

NoNama JenisNama LokalJalur AJalur BJalur CTotal
1Callosciurus notatus Bajing kelapa46515
2Cynopterus brachyotisCodot krawar54413
3Herpestes javanicusGarangan jawa  11
4Nycticebus javanicus Kukang jawa1124
5Trachypithecus auratus Lutung Budeng 51015
6Macaca fascicularisMonyet ekor panjang5181538
7Paradoxurus hermaproditusMusang luwak 112
8Rattus tiomanicusTikus belukar13 4
9Tupaia javanicaTupai kekes2439
 Total 184241101

 

2. Status Konservasi Jenis Mamalia

NoFamiliNama JenisNama IlmiahP.106IUCNCITES
1CercopithecidaeLutung BudengTrachypithecus auratusYVUII
2CercopithecidaeMonyet ekor panjangMacaca fascicularis ENII
3HerpestidaeGarangan jawaHerpestes javanicus LC 
4LorisidaeKukang jawaNycticebus javanicusYCRI
5MuridaeTikus belukarRattus tiomanicus LC 
6PteropodidaeCodot krawarCynopterus brachyotis LC 
7SciuridaeBajing kelapaCallosciurus notatus LC 
8TupaiidaeTupai kekesTupaia javanica LCII
9ViverridaeMusang luwakParadoxurus hermaphroditus LC 

Berdasarkan Permen LHK P.106 Tahun 2018, terdapat 2 jenis mamalia yang termasuk satwa dilindungi, yaitu lutung budeng (Trachypithecus auratus) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus). Berdasarkan kategori IUCN Red List, ditemukan dua jenis dengan status keterancaman tinggi, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dengan kategori Critically Endangered (CR), lutung budeng (Trachypithecus auratus) dengan kategori Vulnerable (VU), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tercatat dalam kategori Endangered (EN). Berdasarkan daftar CITES, terdapat beberapa jenis yang termasuk dalam pengaturan perdagangan internasional, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) yang termasuk Appendix I, serta lutung budeng (Trachypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan tupai kekes (Tupaia javanica) yang termasuk Appendix II.

 

3. Indeks Keanekaragaman Hayati Mamalia

IndeksJalur AJalur BJalur CTotalKeterangan
N (Jumlah Individu)184241101
S (Jumlah Jenis)6889
H` ( Keanekaragaman)1.611.711.721.79Sedang

Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) pada komunitas mamalia di area MTR, diperoleh nilai H’ berkisar antara 1,61–1,72 pada masing-masing jalur pengamatan, dengan nilai total kawasan sebesar 1,79. Berdasarkan kriteria tingkat keanekaragaman, nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas mamalia di area MTR memiliki tingkat variasi jenis yang cukup, dengan distribusi individu yang relatif tersebar pada beberapa jenis mamalia yang ditemukan.

 

4. Trend Mamalia

Trend_Mamalia_1

Berdasarkan hasil pemantauan mamalia di area MTR selama periode 2019–2026, terlihat adanya dinamika jumlah jenis maupun jumlah individu yang tercatat pada setiap tahun pengamatan. Perbedaan jumlah individu dan jumlah jenis antarperiode pemantauan merupakan fenomena yang umum terjadi dalam kegiatan monitoring satwa liar. Perubahan hasil pengamatan tidak selalu menggambarkan perubahan ukuran populasi secara langsung, karena data inventarisasi lapangan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat aktivitas satwa, perilaku harian, kondisi habitat, metode pengamatan, kemampuan deteksi pengamat, serta kondisi lingkungan pada saat survei dilakukan (Magurran, 2004; Morrison et al., 2012).

Penurunan jumlah individu yang tercatat pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025 terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau panjang dengan intensitas curah hujan yang relatif rendah. Kondisi iklim tersebut berpotensi memengaruhi dinamika komunitas mamalia melalui perubahan ketersediaan sumber daya habitat, terutama air, buah, daun muda, serta keberadaan vegetasi bawah sebagai sumber pakan dan perlindungan. Perubahan kondisi lingkungan akibat periode kering dapat menyebabkan satwa melakukan penyesuaian perilaku, seperti mengubah lokasi aktivitas, memperluas area jelajah untuk mencari sumber pakan, atau meningkatkan penggunaan habitat tertentu yang masih memiliki kondisi mikroklimat lebih sesuai (Williams et al., 2008; McCain & Grytnes, 2010).

Trend_Mamalia_2

Peningkatan jumlah individu mamalia dilindungi yang tercatat pada tahun 2024–2026 terutama berkaitan dengan meningkatnya jumlah perjumpaan terhadap jenis primata dilindungi, khususnya lutung budeng (Trachypithecus auratus) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus). Pada pemantauan tahun 2026, kedua jenis tersebut masih ditemukan di area MTR, dengan lutung budeng tercatat sebagai salah satu jenis dengan jumlah individu relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa area MTR masih menyediakan komponen habitat yang mendukung keberadaan mamalia dengan nilai konservasi penting, terutama berupa vegetasi pohon sebagai tempat bergerak, beristirahat, berlindung, dan mencari pakan.

Stabilnya jumlah jenis mamalia dilindungi yang tercatat selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa komunitas mamalia dilindungi di area MTR cenderung memiliki komposisi yang relatif konsisten. Namun, peningkatan jumlah individu yang teramati tidak selalu menunjukkan adanya peningkatan populasi secara langsung, karena hasil pemantauan satwa liar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti intensitas pengamatan, kondisi lingkungan saat survei, perilaku satwa, pola penggunaan ruang, serta peluang deteksi pada saat kegiatan inventarisasi dilakukan (Magurran, 2004; Morrison et al., 2012).

1. Inventarisasi Jenis Burung

NoFamiliNama JenisNama IlmiahJalur AJalur BJalur CTotal
1AcanthizidaeRemetuk lautGerygone sulphurea45514
2AccipitridaeElang hitamIctinaetus malayensis112
3AccipitridaeElang-ular bidoSpilornis cheela123
4AegithinidaeCipoh kacatAegithina tiphia36817
5AlcedinidaeCekakak jawaHalcyon cyanoventris22
6AlcedinidaeCekakak sungaiTodiramphus chloris3249
7AlcedinidaeRaja-udang menintingAlcedo meninting22
8ApodidaeKapinis rumahApus nipalensis5813
9ApodidaeWalet linciCollocalia linchi55717
10ArdeidaeBlekok sawahArdeola speciosa44
11ArdeidaeKuntul kecilEgretta garzetta66
12ArtamidaeKekep babiArtamus leucoyn347
13CampephagidaeKapasan kemiriLalage nigra22
14CaprimulgidaeCabak malingCaprimulgus macrurus123
15CisticolidaeCinenen jawaOrthotomus sepium3249
16CisticolidaeCinenen kelabuOrthotomus ruficeps2349
17CisticolidaeCinenen pisangOrthotomus sutorius33
18ColumbidaePerkutut jawaGeopelia striata314
19ColumbidaeTekukur biasaSpilopelia chinensis257
20CuculidaeBubut alang-alangCentropus bengalensis11
21CuculidaeBubut besarCentropus sinensis112
22CuculidaeKadalan birahPhaenicophaeus curvirostris11
23CuculidaeKedasi hitamSurniculus lugubris22
24CuculidaeWiwik belukarCacomantis variolosus22
25CuculidaeWiwik kelabuCacomantis merulinus235
26DicaeidaeCabai bunga-apiDicaeum trigonostigma22
27DicaeidaeCabai jawaDicaeum trochileum24511
28DicaeidaeCabai polosDicaeum minullum123
29DicruridaeSrigunting kelabuDicrurus leucophaeus22
30EstrildidaeBondol hajiLonchura maja55
31EstrildidaeBondol jawaLonchura leucogastroides437
32EstrildidaeBondol pekingLonchura punctulata66
33HirundinidaeLayang-layang batuHirundo javanica325
34HirundinidaeLayang-layang guaCecropis daurica33
35HirundinidaeLayang-layang lorengCecropis striolata22
36MegalaimidaeTakur ungkut-ungkutPsilopogon haemacephalus33511
37NectariniidaeBurung-madu kelapaAnthreptes malacensis22
38NectariniidaeBurung-madu srigantiCinnyris jugularis235
39ParidaeGelatik batuParus cinereus22
40PasseridaeBurung-gereja erasiaPasser montanus66
41PellorneidaePelanduk semakMalacocincla sepiaria123
42PhasianidaeAyam-hutan merahGallus gallus11
43PicidaeCaladi tilikPicoides moluccensis123
44PicidaeCaladi ulamDendrocopos macei11
45PittidaePaok pancawarnaHydrornis guajanus11
46PycnonotidaeCucak kutilangPycnonotus aurigaster64717
47RallidaeKareo padiAmaurornis phoenicurus22
48RhipiduridaeKipasan belangRhipidura javanica22
49StrigidaeBeluk jampukBubo sumatranus11
50StrigidaeCelepuk rebanOtus lempiji112
51TimaliidaeTepus pipi-perakCyanoderma melanothorax33
52TurnicidaeGemak lorengTurnix suscitator33
53VangidaeJingjing batuHemipus hirundinaceus22
Jumlah Individu8370106259
Jumlah Jenis23293553

Berdasarkan hasil inventarisasi burung di area MTR tercatat sebanyak 53 jenis burung dengan total 259 individu yang berasal dari 31 famili. Hasil tersebut menunjukkan bahwa area MTR masih dimanfaatkan oleh komunitas burung dengan karakter ekologis yang beragam.

2. Status Konservasi Jenis Burung

NoNama JenisNama IlmiahStatus Konservasi P.106Status Konservasi IUCNStatus Konservasi CITES
1Remetuk lautGerygone sulphureaLC
2Elang hitamIctinaetus malayensisLCII
3Elang-ular bidoSpilornis cheelaLCII
4Cipoh kacatAegithina tiphiaLC
5Cekakak jawaHalcyon cyanoventrisLC
6Cekakak sungaiTodiramphus chlorisLC
7Raja-udang menintingAlcedo menintingLC
8Kapinis rumahApus nipalensisLC
9Walet linciCollocalia linchiLC
10Blekok sawahArdeola speciosaLC
11Kuntul kecilEgretta garzettaLC
12Kekep babiArtamus leucoynLC
13Kapasan kemiriLalage nigraLC
14Cabak malingCaprimulgus macrurusLC
15Cinenen jawaOrthotomus sepiumLC
16Cinenen kelabuOrthotomus ruficepsLC
17Cinenen pisangOrthotomus sutoriusLC
18Perkutut jawaGeopelia striataLC
19Tekukur biasaSpilopelia chinensisLC
20Bubut alang-alangCentropus bengalensisLC
21Bubut besarCentropus sinensisLC
22Kadalan birahPhaenicophaeus curvirostrisLC
23Kedasi hitamSurniculus lugubrisLC
24Wiwik belukarCacomantis variolosusLC
25Wiwik kelabuCacomantis merulinusLC
26Cabai bunga-apiDicaeum trigonostigmaLC
27Cabai jawaDicaeum trochileumLC
28Cabai polosDicaeum minullumLC
29Srigunting kelabuDicrurus leucophaeusLC
30Bondol hajiLonchura majaLC
31Bondol jawaLonchura leucogastroidesLC
32Bondol pekingLonchura punctulataLC
33Layang-layang batuHirundo javanicaLC
34Layang-layang guaCecropis dauricaLC
35Layang-layang lorengCecropis striolataLC
36Takur ungkut-ungkutPsilopogon haemacephalusLC
37Burung-madu kelapaAnthreptes malacensisLC
38Burung-madu srigantiCinnyris jugularisLC
39Gelatik batuParus cinereusLC
40Burung-gereja erasiaPasser montanusLC
41Pelanduk semakMalacocincla sepiariaLC
42Ayam-hutan merahGallus gallusLC
43Caladi tilikPicoides moluccensisLC
44Caladi ulamDendrocopos maceiLC
45Paok pancawarnaHydrornis guajanusLCII
46Cucak kutilangPycnonotus aurigasterLC
47Kareo padiAmaurornis phoenicurusLC
48Kipasan belangRhipidura javanicaLC
49Beluk jampukBubo sumatranusLCII
50Celepuk rebanOtus lempijiLCII
51Tepus pipi-perakCyanoderma melanothoraxLC
52Gemak lorengTurnix suscitatorLC
53Jingjing batuHemipus hirundinaceusLC

Berdasarkan tabel di atas, status konservasi terhadap 53 jenis burung yang ditemukan di area MTR, seluruh jenis tercatat memiliki status Least Concern (LC) berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN). Status tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi global, jenis-jenis tersebut belum mengalami tingkat penurunan populasi atau tekanan habitat yang memenuhi kriteria kategori terancam (Threatened Category) pada skala global (IUCN, 2025). Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, ditemukan sebanyak 5 jenis burung yang termasuk dalam daftar satwa dilindungi, yaitu elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang-ular bido (Spilornis cheela), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), kipasan belang (Rhipidura javanica), dan beluk jampuk (Bubo sumatranus). hasil inventarisasi juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis yang tercantum dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II, yaitu elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang-ular bido (Spilornis cheela), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), beluk jampuk (Bubo sumatranus), dan celepuk reban (Otus lempiji).

 

3. Indeks Keanekaragaman Hayati Burung

Indeks

Jalur A

Jalur B

Jalur C

Total

Keterangan

N (Jumlah Individu)

83

70

106

259

S (Jumlah Jenis)

23

29

35

53

H` (Keanekaragaman)

3,05

3,19

3,36

3,65

Tinggi

 

Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) pada komunitas burung di area MTR, seluruh jalur pengamatan menunjukkan nilai keanekaragaman yang tergolong tinggi, dengan nilai H’ berkisar antara 3,05–3,36, sedangkan nilai keanekaragaman secara keseluruhan area MTR mencapai 3,65. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas burung di area MTR memiliki tingkat keanekaragaman yang baik dengan komposisi jenis yang relatif beragam serta distribusi individu antarjenis yang cukup merata. Berdasarkan kriteria umum indeks Shannon-Wiener, nilai H’ > 3 menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki tingkat keanekaragaman tinggi, yang mencerminkan kondisi habitat yang masih mampu menyediakan berbagai sumber daya ekologis bagi keberadaan berbagai jenis burung (Magurran, 2004).

 

4. Tren Burung 

Trend_Burung_2

Pada pemantauan tahun 2026, tercatat sebanyak 53 jenis burung dengan total 259 individu, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2025 yang mencatat 56 jenis dengan 284 individu. Perbedaan hasil pemantauan tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya diduga berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan di area MTR, terutama akibat periode kemarau panjang yang menyebabkan perubahan pada beberapa elemen habitat. Kondisi kering dapat memengaruhi ketersediaan sumber air, produktivitas vegetasi, serta keberadaan sumber pakan tertentu, sehingga dapat memengaruhi aktivitas dan peluang deteksi beberapa jenis burung saat pengamatan.

Trend_Burung_2

Berdasarkan status perlindungan nasional berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 Tahun 2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pada pemantauan tahun 2026, tercatat sebanyak 4 jenis burung dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018, yaitu elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang-ular bido (Spilornis cheela), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), dan beluk jampuk (Bubo sumatranus). Keberadaan jenis-jenis tersebut menunjukkan bahwa area MTR masih dimanfaatkan oleh kelompok burung dengan nilai konservasi penting. Khususnya kelompok burung pemangsa seperti elang hitam, elang-ular bido, dan beluk jampuk, keberadaannya menunjukkan bahwa lanskap sekitar MTR masih menyediakan elemen habitat yang mendukung aktivitas mencari makan, bertengger, maupun pergerakan antarhabitat.

1. Inventarisasi Jenis Herpetofauna

Kelas

Nama Lokal

Nama Ilmiah

Jalur A

Jalur B

Jalur C

Total

Amfibi

Kodok Buduk

Duttaphrynus melanostictus

 

3

2

5

Amfibi

Kodok Tegalan

Fejervarya limnocharis

  

3

3

Amfibi

Kodok batu

Limnonectes macrodon

  

1

1

Amfibi

Kongkang Kolam

Chalcorana chalconota

  

3

3

Amfibi

Katak Pohon Bergaris

Polypedates leucomystax

 

2

3

5

Reptil

Bunglon Taman

Calotes versicolor

  

2

2

Reptil

Bunglon surai

Bronchocela jubata

  

2

2

Reptil

Cekibar

Draco volans

  

2

2

Reptil

Ular Cecak

Lycodon capucinus

 

1

1

2

Reptil

Ular Siput

Pareas carinatus

 

1

 

1

Reptil

Ular Picung

Rhabdophis subminiatus

  

1

1

Reptil

Ular Weling

Bungarus candidus

1

  

1

Reptil

Cecak Gula

Gehyra mutilata

 

1

 

1

Reptil

Cecak Jari-Lengkung Jawa

Cyrtodactylus marmoratus

2

 

5

7

Reptil

Cecak Kayu

Hemidactylus frenatus

3

1

5

9

Reptil

Cecak Tembok

Hemidactylus platyurus

 

2

1

3

Reptil

Tokek Rumah

Gekko gecko

 

5

2

7

Reptil

Kadal Rumput

Takydromus sexlineatus

 

1

 

1

Reptil

Kadal Kebun

Eutropis multifasciata

1

2

6

9

Reptil

Biawak Air Asia

Varanus salvator

1

2

 

3

Total

8

21

38

67

 

Dari keseluruhan jenis yang ditemukan, beberapa jenis menunjukkan kelimpahan individu yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya. Kadal kebun (Eutropis multifasciata) dan Cecak kayu (Hemidactylus frenatus) merupakan jenis dengan jumlah individu tertinggi, masing-masing sebanyak 9 individu. Kelimpahan E. multifasciata dapat berkaitan dengan kemampuan jenis ini dalam memanfaatkan berbagai kondisi habitat, terutama area yang memiliki tutupan vegetasi, serasah, semak, maupun bagian habitat yang relatif terbuka. Sementara itu, H. frenatus merupakan jenis yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan yang telah mengalami modifikasi, termasuk keberadaan bangunan, struktur buatan, maupun kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Karakter tersebut memungkinkan kedua jenis memiliki peluang perjumpaan yang lebih tinggi selama kegiatan monitoring.

2. Status Konservasi

Kelas

Nama Lokal

Nama Ilmiah

IUCN

CITES

P.106/18

Amfibi

Kodok Buduk

Duttaphrynus melanostictus

LC

Amfibi

Kodok Tegalan

Fejervarya limnocharis

LC

Amfibi

Kodok batu

Limnonectes macrodon

LC

Amfibi

Kongkang Kolam

Chalcorana chalconota

LC

Amfibi

Katak Pohon Bergaris

Polypedates leucomystax

LC

Reptil

Bunglon Taman

Calotes versicolor

LC

Reptil

Bunglon surai

Bronchocela jubata

LC

Reptil

Cekibar

Draco volans

LC

Reptil

Ular Cecak

Lycodon capucinus

LC

Reptil

Ular Siput

Pareas carinatus

LC

Reptil

Ular Picung

Rhabdophis subminiatus

LC

Reptil

Ular Weling

Bungarus candidus

LC

Reptil

Cecak Gula

Gehyra mutilata

LC

Reptil

Cecak Jari-Lengkung Jawa

Cyrtodactylus marmoratus

LC

Reptil

Cecak Kayu

Hemidactylus frenatus

LC

Reptil

Cecak Tembok

Hemidactylus platyurus

LC

Reptil

Tokek Rumah

Gekko gecko

LC

II

Reptil

Kadal Rumput

Takydromus sexlineatus

LC

Reptil

Kadal Kebun

Eutropis multifasciata

LC

Reptil

Biawak Air Asia

Varanus salvator

LC

II

 

Kelompok amfibi yang ditemukan di area MTR terdiri atas kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus), kodok tegalan (Fejervarya limnocharis), kodok batu (Limnonectes macrodon), kongkang kolam (Chalcorana chalconota), dan katak pohon bergaris (Polypedates leucomystax). Seluruh jenis amfibi tersebut memiliki status LC berdasarkan IUCN dan tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK P.106 Tahun 2018 maupun pengaturan perdagangan internasional CITES. Keberadaan berbagai jenis amfibi tersebut menunjukkan bahwa area MTR masih menyediakan mikrohabitat yang mendukung kehidupan kelompok amfibi, seperti area lembap, genangan air, vegetasi bawah, serta lingkungan dengan tingkat kelembapan yang sesuai. Amfibi diketahui memiliki keterikatan yang kuat terhadap kondisi mikroklimat karena kulitnya yang permeabel dan siklus hidupnya yang umumnya berkaitan dengan keberadaan air, sehingga keberadaan kelompok ini dapat menjadi salah satu indikator kondisi lingkungan mikro suatu kawasan (Wells, 2007).

Kelompok reptil yang ditemukan memiliki komposisi jenis yang lebih beragam, meliputi kelompok kadal, ular, tokek, serta biawak. Jenis reptil yang ditemukan antara lain bunglon taman (Calotes versicolor), bunglon surai (Bronchocela jubata), cekibar (Draco volans), berbagai jenis ular seperti ular cecak (Lycodon capucinus), ular siput (Pareas carinatus), ular picung (Rhabdophis subminiatus), dan ular weling (Bungarus candidus), serta kelompok kadal dan tokek seperti cecak kayu (Hemidactylus frenatus), tokek rumah (Gekko gecko), dan biawak air Asia (Varanus salvator). Sebagian besar jenis reptil tersebut memiliki status LC berdasarkan IUCN, yang menunjukkan bahwa jenis tersebut masih memiliki distribusi yang luas dan mampu memanfaatkan berbagai tipe habitat.

 

3. Indeks Keanekaragaman Hayati Herpetofauna

Indeks

Jalur A

Jalur B

Jalur C

Total

Keterangan

N (Jumlah Individu)

7

19

38

64

S (Jumlah Jenis)

4

10

14

19

H (Keanekaragaman)

1,56

2,37

2,49

2,71

Sedang

Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) herpetofauna (amfibi dan reptil) di area MTR, diperoleh nilai keanekaragaman pada masing-masing jalur pengamatan berkisar antara 1,56–2,49, dengan nilai total kawasan sebesar 2,71. Berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang, yang menunjukkan bahwa komunitas herpetofauna di area MTR memiliki tingkat keanekaragaman jenis yang cukup dengan distribusi individu yang relatif beragam.

 

4. Tren Herpetofauna

Trend_Herpe

Berdasarkan hasil pemantauan herpetofauna (amfibi dan reptil) di area MTR selama periode 2019–2026, terlihat adanya dinamika jumlah jenis maupun jumlah individu yang tercatat pada setiap tahun pengamatan. Secara umum, jumlah jenis herpetofauna menunjukkan kecenderungan meningkat dari 9 jenis pada tahun 2019 menjadi 20 jenis pada tahun 2026, dengan jumlah tertinggi tercatat pada tahun 2025 sebanyak 22 jenis. Sementara itu, jumlah individu menunjukkan pola yang lebih fluktuatif, dengan jumlah tertinggi tercatat pada tahun 2025 sebanyak 144 individu, kemudian mengalami penurunan menjadi 67 individu pada tahun 2026.

Pada tahun 2026, jumlah individu herpetofauna mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 144 individu pada tahun 2025 menjadi 67 individu. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau panjang dengan periode suhu tinggi dan curah hujan yang rendah yang berlangsung pada periode pengamatan. Kondisi iklim ekstrem berupa periode kering yang lebih panjang dapat memberikan tekanan terhadap komunitas herpetofauna, terutama melalui perubahan kondisi mikrohabitat. Penurunan kelembapan tanah, berkurangnya genangan air alami, mengeringnya serasah, serta perubahan struktur vegetasi bawah dapat mengurangi kesesuaian habitat bagi beberapa jenis, khususnya kelompok amfibi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap lingkungan lembap untuk aktivitas harian maupun reproduksi (Gibbons et al., 2000; Wells, 2007).

1. Inventarisasi Jenis Arthropoda

NoOrdoFamiliNama LatinJalur AJalur BJalur CTotal
1AraneaeAraneidaeArgiope versicolor1.01.02
2AraneaeScytodidaeScytodes fusca1.01
3AraneaeSparassidaeHeteropoda strasseni1.01
4BlattodeaBlattidaeHemithyrsocera histrio1.01.02
5ChilopodaScutigeridaeThereuopoda longicornis1.01
6ColeopteraCarabidaeHarpalus affinis3.01.04
7ColeopteraCoccinellidaeCoccinella transversalis1.01
8ColeopteraCoccinellidaeMegalocaria dilatata1.01
9ColeopteraLampyridaeLampyris noctiluca2.02
10DiplopodaParadoxosomatidaeOrthomorpha coarctata1.01
11DiplopodaTrigoniulidaeTrigoniulus corallinus1.01
12DipteraCalliphoridaeLucilia sericata4.03.07
13DipteraSarcophagidaeSarcophaga carnaria3.03
14DipteraTephritidaeBactocera dorsalis2.02
15DipteraTipulidaeTipula luna1.01.02
16HemipteraAlydidaeRiptortus linearis1.01
17HemipteraGerridaeAquarius remigis1.02.03
18HemipteraMiridaeEurystylus coelestialium1.01
19HemipteraPyrrhocoridaeAntilochus coquebertii2.03.05
20HemipteraPyrrhocoridaeDysdercus poecilus5.05
21HymenopteraApidaeXylocopa dejeanii2.02
22HymenopteraApidaeXylocopa latipes1.01
23HymenopteraVespidaePolistes canadensis2.01.03
24HymenopteraVespidaeVespa analis3.03
25LepidopteraErebidaeAmata huebneri2.02
26LepidopteraErebidaeAsota heliconia1.01
27LepidopteraErebidaeErebus ephesperis1.01
28LepidopteraErebidaeGesonia obeditalis1.01
29LepidopteraErebidaeLygniodes hypoleuca1.01
30LepidopteraGeometridaeChiasmia eleonora1.01
31LepidopteraHesperiidaeBorbo cinnara3.01.04
32LepidopteraHesperiidaeMatapa aria3.02.05
33LepidopteraHesperiidaeParnara bada2.01.03
34LepidopteraLycaenidaeZizina otis5.02.07
35LepidopteraLycaenidaeZizula hylax4.01.05
36LepidopteraNymphalidaeDoleschallia bisaltide2.02
37LepidopteraNymphalidaeEuploea mulciber2.01.03
38LepidopteraNymphalidaeHypolimnas bolina1.01.02
39LepidopteraNymphalidaeIdeopsis juventa2.01.03
40LepidopteraNymphalidaeJunonia iphita1.02.04.07
41LepidopteraNymphalidaeJunonia orithya1.02.03
42LepidopteraNymphalidaeMycalesis janardana3.03
43LepidopteraNymphalidaeMycalesis mineus3.03
44LepidopteraNymphalidaeNeptis clinia3.03
45LepidopteraNymphalidaeNeptis hylas4.01.05
46LepidopteraNymphalidaeParantica aspasia2.02
47LepidopteraNymphalidaeYpthima baldus4.04
48LepidopteraPapilionidaeGraphium doson2.02
49LepidopteraPapilionidaePapilio memnon2.02
50LepidopteraPapilionidaePapilio polytes1.01
51LepidopteraPieridaeCatopsilia pomona2.08.03.013
52LepidopteraPieridaeEurema blanda4.04
53LepidopteraPieridaeLeptosia nina1.03.04.08
54MantodeaMantidaeStatilia maculata1.01
55OdonataLibellulidaeCrocothemis servilia1.02.03
56OdonataLibellulidaeDiplacodes trivialis1.02.03
57OdonataLibellulidaeNeurothemis fluctuans2.03.05
58OdonataLibellulidaeNeurothemis terminata1.01.02
59OdonataLibellulidaeOrthetrum sabina3.01.04
60OdonataLibellulidaeOrthetrum testaceum1.02.03
61OdonataLibellulidaePotamarcha congener3.02.05
62OdonataPlatycnemididaeCopera marginipes1.01
63OrthopteraAcrididaeCaryanda spuria1.03.04
64OrthopteraAcrididaePatanga japonica3.03
65OrthopteraAcrididaeValanga nigricornis1.05.06
66OrthopteraAcrididaeXenocatantops humilis5.05
67OrthopteraPyrgomorphidaeAtractomorpha crenulata4.04
TOTAL33.0114.058.0205

Berdasarkan hasil inventarisasi serangga dan kelompok avertebrata lainnya di area MTR, tercatat sebanyak 67 jenis dengan total 205 individu yang tersebar pada tiga jalur pengamatan. Kelompok yang ditemukan mencakup berbagai ordo, antara lain Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat), Odonata (capung), Coleoptera (kumbang), Hymenoptera (lebah dan tawon), Diptera (lalat), Hemiptera (kepik), Orthoptera (belalang), Araneae (laba-laba), serta beberapa kelompok avertebrata lainnya.

 

2. Status Konservasi Arthropoda

NoNama IlmiahNama Lokal/KelompokPP (P.106/2018)IUCNCITES
1Argiope versicolorLaba-labaTidak dilindungiNE/NANon Appendix
2Scytodes fuscaLaba-labaTidak dilindungiNE/NANon Appendix
3Heteropoda strasseniLaba-laba pemburuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
4Hemithyrsocera histrioKecoakTidak dilindungiNE/NANon Appendix
5Thereuopoda longicornisKelabang rumahTidak dilindungiNE/NANon Appendix
6Harpalus affinisKumbang tanahTidak dilindungiNE/NANon Appendix
7Coccinella transversalisKumbang koksiTidak dilindungiNE/NANon Appendix
8Megalocaria dilatataKumbang koksiTidak dilindungiNE/NANon Appendix
9Lampyris noctilucaKunang-kunangTidak dilindungiLCNon Appendix
10Orthomorpha coarctataKaki seribuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
11Trigoniulus corallinusKaki seribuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
12Lucilia sericataLalat hijauTidak dilindungiNE/NANon Appendix
13Sarcophaga carnariaLalat dagingTidak dilindungiNE/NANon Appendix
14Bactrocera dorsalisLalat buah orientalTidak dilindungiNE/NANon Appendix
15Tipula lunaLalat craneTidak dilindungiNE/NANon Appendix
16Riptortus linearisKepik polongTidak dilindungiNE/NANon Appendix
17Aquarius remigisKepik airTidak dilindungiNE/NANon Appendix
18Eurystylus coelestialiumKepik tanamanTidak dilindungiNE/NANon Appendix
19Antilochus coquebertiiKepik merahTidak dilindungiNE/NANon Appendix
20Dysdercus poecilusKepik kapasTidak dilindungiNE/NANon Appendix
21Xylocopa dejeaniiLebah kayuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
22Xylocopa latipesLebah kayu besarTidak dilindungiNE/NANon Appendix
23Polistes canadensisTawon kertasTidak dilindungiNE/NANon Appendix
24Vespa analisTawonTidak dilindungiNE/NANon Appendix
25Amata huebneriNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
26Asota heliconiaNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
27Erebus ephesperisNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
28Gesonia obeditalisNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
29Lygniodes hypoleucaNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
30Chiasmia eleonoraNgengatTidak dilindungiNE/NANon Appendix
31Borbo cinnaraKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
32Matapa ariaKupu-kupu skipperTidak dilindungiNE/NANon Appendix
33Parnara badaKupu-kupu skipperTidak dilindungiNE/NANon Appendix
34Zizina otisKupu-kupu biruTidak dilindungiNE/NANon Appendix
35Zizula hylaxKupu-kupu biru kecilTidak dilindungiNE/NANon Appendix
36Doleschallia bisaltideKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
37Euploea mulciberKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
38Hypolimnas bolinaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
39Ideopsis juventaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
40Junonia iphitaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
41Junonia orithyaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
42Mycalesis janardanaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
43Mycalesis mineusKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
44Neptis cliniaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
45Neptis hylasKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
46Parantica aspasiaKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
47Ypthima baldusKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
48Graphium dosonKupu-kupu sayap pedangTidak dilindungiNE/NANon Appendix
49Papilio memnonKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
50Papilio polytesKupu-kupuTidak dilindungiNE/NANon Appendix
51Catopsilia pomonaKupu-kupu kuningTidak dilindungiNE/NANon Appendix
52Eurema blandaKupu-kupu kuningTidak dilindungiNE/NANon Appendix
53Leptosia ninaKupu-kupu putihTidak dilindungiNE/NANon Appendix
54Statilia maculataBelalang sembahTidak dilindungiNE/NANon Appendix
55Crocothemis serviliaCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
56Diplacodes trivialisCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
57Neurothemis fluctuansCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
58Neurothemis terminataCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
59Orthetrum sabinaCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
60Orthetrum testaceumCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
61Potamarcha congenerCapungTidak dilindungiNE/NANon Appendix
62Copera marginipesCapung jarumTidak dilindungiNE/NANon Appendix
63Caryanda spuriaBelalangTidak dilindungiNE/NANon Appendix
64Patanga japonicaBelalangTidak dilindungiNE/NANon Appendix
65Valanga nigricornisBelalangTidak dilindungiNE/NANon Appendix
66Xenocatantops humilisBelalangTidak dilindungiNE/NANon Appendix
67Atractomorpha crenulataBelalangTidak dilindungiNE/NANon Appendix

Berdasarkan hasil penapisan status konservasi terhadap komunitas serangga dan avertebrata yang ditemukan di area MTR, tercatat sebanyak 67 jenis yang terdiri atas berbagai kelompok taksonomi, seperti Lepidoptera, Odonata, Coleoptera, Hymenoptera, Diptera, Hemiptera, Orthoptera, Araneae, serta beberapa kelompok avertebrata lainnya. Hasil evaluasi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, IUCN Red List, dan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) menunjukkan bahwa seluruh jenis yang ditemukan tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi nasional, tidak tercantum dalam daftar perdagangan internasional CITES, serta sebagian besar belum memiliki penilaian status konservasi spesifik pada IUCN (Not Evaluated/NE).

 

3. Indeks Keanekaragaman Hayati Arthropoda

Indeks

Jalur A

Jalur B

Jalur C

Total

Keterangan

N (Jumlah Individu)

33

114

58

205

S (Jumlah Jenis)

23

46

31

67

H (Keanekaragaman)

3,03

3,67

3,27

3,99

Tinggi

Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) terhadap komunitas serangga dan avertebrata di area MTR, diperoleh nilai keanekaragaman pada masing-masing jalur pengamatan berkisar antara 3,03–3,67, dengan nilai total kawasan sebesar H’ = 3,99. Berdasarkan kriteria umum indeks Shannon-Wiener, nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman serangga dan avertebrata di area MTR termasuk dalam kategori tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunitas serangga di area MTR tersusun atas banyak jenis dengan distribusi individu yang relatif merata, sehingga tidak terdapat dominasi yang sangat kuat oleh satu atau beberapa jenis tertentu (Magurran, 2004).

4. Tren Arthropoda

Trend_Arthropoda

Berdasarkan hasil pemantauan komunitas arthropoda di area MTR selama periode 2019–2026, terlihat adanya dinamika jumlah jenis maupun jumlah individu yang cukup fluktuatif antarperiode pengamatan. Secara umum, jumlah jenis arthropoda menunjukkan tren peningkatan, yaitu dari 11 jenis pada tahun 2019 menjadi 68 jenis pada tahun 2026. Peningkatan kekayaan jenis tersebut menunjukkan bahwa area MTR masih mampu menyediakan berbagai kondisi habitat yang mendukung keberadaan kelompok arthropoda dengan karakter ekologis yang beragam. Sementara itu, jumlah individu menunjukkan pola yang lebih dinamis, dengan nilai tertinggi tercatat pada tahun 2025 sebanyak 479 individu, kemudian mengalami penurunan menjadi 210 individu pada tahun 2026.

pada tahun 2026 terjadi penurunan jumlah individu dari 479 individu menjadi 210 individu, meskipun jumlah jenis masih relatif tinggi yaitu 68 jenis. Penurunan kelimpahan individu tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau panjang dengan suhu udara yang relatif tinggi dan curah hujan rendah. Kondisi iklim kering dapat memberikan pengaruh terhadap komunitas arthropoda melalui perubahan kelembapan mikrohabitat, ketersediaan sumber pakan, serta aktivitas harian organisme. Banyak kelompok arthropoda, khususnya serangga bertubuh kecil, sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan kelembapan karena faktor tersebut berperan dalam metabolisme, perkembangan, reproduksi, dan keberhasilan bertahan hidup (Chown & Terblanche, 2007).