Keanekaragaman Hayati Flora

1. Inventarisasi Jenis

Berdasarkan hasil inventarisasi jenis tumbuhan tahun 2026 ditemukan 195 jenis tumbuhan yang masuk kedalam 55 famili. sepuluh famili yang banyak ditemukan yaitu famili Fabaceae, Moraceae, Malvaceae, Phyllanthaceae, Myrtaceae, Euphorbiaceae, Sapindaceae, Poaceae, Anacardiaceae, dan Meliaceae.

2. Status Konservasi Jenis

3. Indeks Nilai Penting

Indeks Nilai Penting (INP) atau Important Value Index (IVI) adalah salah satu parameter ekologi yang digunakan untuk mengukur dominasi relatif suatu spesies tumbuhan dalam suatu komunitas atau ekosistem. Indeks ini mencerminkan sejauh mana suatu spesies memiliki pengaruh ekologis berdasarkan jumlah individu, frekuensi, dan luas penutupan atau basal area dalam suatu areal tertentu.

4. Indeks Keanekaragaman Hayati

Menurut Magurran (2004), Indeks Keanekaragaman Hayati Shannon-Wiener (juga dikenal sebagai Shannon-Wiener Index atau Shannon Diversity Index) adalah salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengukur keanekaragaman spesies dalam suatu komunitas atau ekosistem.

5. Trend Jumlah Jenis Tumbuhan

Pada tahun 2026 tercatat 195 jenis, atau mengalami penurunan sekitar 17,0% dibandingkan tahun 2025. Penurunan tersebut tidak serta-merta menunjukkan hilangnya 40 jenis tumbuhan dari Area MTR, tetapi lebih tepat dipahami sebagai penurunan jumlah jenis yang terdeteksi selama periode inventarisasi. Kondisi ini diduga berkaitan dengan periode kemarau panjang yang terjadi pada saat pengamatan, terutama karena kelompok tumbuhan bawah seperti herba, paku-pakuan, dan liana relatif sensitif terhadap perubahan ketersediaan air, kelembapan tanah, dan mikroklimat (Fauset et al., 2010).

Cadangan Karbon dan Serapan Karbon

Biomassa dan Cadangan Karbon Tegakan Pohon

Cadangan karbon pada area MTR didapat 579 individu pohon dengan 44 spesies dari 19 famili yang berbeda. Diameter batang pohon berkisar antara 2 cm hingga 55 cm. Pohon dengan diameter terkecil dan terbesar berturut-turut adalah Ki Seureuh (Piper aduncum) dan Sobsi (Maesopsis eminii). Tinggi pohon berkisar antara 1,5 m hingga 15 m dengan rata-rata tinggi 6,76 m. Rata-rata biomassa dan cadangan karbon tegakan pohon yang diperoleh dari di kawasan MTR PT PLN Nusantara Power UP Cirata berturut-turut sebesar 29,31 ton/ha dan 13,78 ton/ha dengan rata-rata nilai biomassa dan cadangan karbon pada tiap spesies sebesar 0,67 ton/ha dan 0,31 ton/ha. Pohon Jati (Tectona grandis) memiliki biomassa dan cadangan karbon tertinggi dengan nilai biomassa sebesar 5,22 ton/ha dan nilai cadangan karbon sebesar 2,45 ton/ha.

Tumbuhan bawah merupakan salah satu komponen carbon pool di atas permukaan tanah. Tumbuhan bawah ini mencakup semak belukar dengan batang berdiameter < 5 cm, tumbuhan menjalar (liana),  rumput-rumputan atau gulma. Rata-rata nilai biomassa dan cadangan karbon tumbuhan bawah di kawasan MTR PLN Nusantara Power UP Cirata berturut-turut sebesar 1,59 ton/ha  dan 0,75 ton/ha.

Total cadangan karbon di area MTR dihitung dari penjumlahan carbon pool tegakan pohon dan tumbuhan bawah. Total biomassa di area MTR sebesar 346,71 ton/ha, dengan cadangan karbon sebesar 162,95 ton/ha, dan total serapan karbon sebesar 598,04 ton CO2e/ha.

Carbon pool

Biomassa (ton/ha)

Karbon (ton/ha)

Tegakan Pohon

328,85

154,56

Tumbuhan bawah

17,86

8,39

Total

346,71

162,95